Pemusnahan Limbah menjadi Bahan Bakar Alternative dan Bahan Baku Alternative

Pemusnahan Limbah menjadi Bahan Bakar Alternative dan Bahan Baku Alternative

Bertumbuhnya dunia industri menyebabkan makin bertambahnya jumlah limbah industri baik di dalam pabrik sendiri maupun di kawasan-kawasan industri. Limbah yang dihasilkan dunia industri, rata-rata tergolong limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Limbah industri ini bila dibuang secara sembarangan, misal dibuang ke tempat pembuangan sampah rumah tangga, dibuang ke sungai / danau / laut atau di lembah-lembah dapat menimbulkan bahaya bagi lingkungan di sekitarnya termasuk manusia. Untuk mengantisipasi bahaya terhadap lingkungan tersebut, maka Pemerintah Republik Indonesia telah menerapkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Pada UU No. 32 Tahun 2009 ini tanggung jawab terhadap lingkungan melibatkan semua stake holder, mulai dari penghasil limbah hingga pemanfaat akhirnya, termasuk Pemerintah Daerahnya. Penghasil limbah harus melakukan pengelolaan limbahnya sendiri maupun dikelolakan pihak ke tiga dengan benar dan tepat. Pengelolaan limbah yang asal-asalan dapat berdampak buruk bagi penghasil limbah sendiri, yaitu dapat terkena sangsi pidana maupun perdata. Pemerintah Daerah yang tidak melakukan pengawasan dan teguran terhadap industri yang berada dibawah kendalinya, juga akan ikut dikenakan sangsi hukum. Untuk mengatasi hal ini, maka perlu dilakukan pengawasan secara ketat dan terpadu, agar penaatan selalu dilakukan oleh para penghasil limbah.

Pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun yang dapat digolongkan terbaik adalah dengan memusnahkan limbah B3 dengan konsep 3R (Reuse, Recycle dan Recovery). Bila limbah B3 tersebut masih dapat digunakan kembali, maka harus diupayakan penggunaan kembali (Reuse) sehingga tidak menambah jumlah limbah baru, contoh sederhananya dengan menggunakan kembali kemasan B3 untuk bakan kimia atau limbah B3 yang sama atau sejenis.

Bila limbah B3 sudah tidak dapat digunakan kembali, maka limbah B3 dapat didaur ulang (Recycle), agar hasilnya dapat digunakan kembali, sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan baku yang baru dan mengurangi jumlah limbah B3. Contoh dari Recycle ini adalah dengan melakukan proses daur ulang limbah plastik ataupun logam sebagai bahan baku untuk pembuatan produk baru.

Yang terakhir, bila limbah B3 tidak dapat digunakan kembali maupun didaur ulang, maka harus dilakukan proses perolehan kembali kandungan material maupun energy yang terdapat di dalam limbah tersebut (Recovery), sehingga dapat mengurangi penggunaan material maupun energy baru, dan limbah dapat dikelola dengan baik. Beberapa contoh dari proses recovery ini adalah proses perolehan kembali tembaga dan besi yang terdapat dalam limbah elektronik untuk digunakan menjadi bahan baku alternative (Alternative Material – AF) pabrik kabel atau baja.

Proses perolehan kembali minyak yang terdapat dalam limbah lumpur minyak (sludge oil) dari proses pembersihan tangki penyimpanan minyak maupun pembersihan kapal tanker (tank cleaning), menjadi produk bahan bakar alternative (Alternative Fuel – AF). Proses perolehan kembali kalor / energy dan material (silica dan calcium) yang terdapat dalam limbah abu batubara (Coal Fly Ash & Bottom Ash) dari limbah sisa pembakaran bahan bakar pada boiler batubara dari berbagai industri dan PLTU, menjadi bahan bakar alternative dan bahan baku alternative bagi industri semen, sehingga dapat mengurangi penggunaan sumber daya alam (tambang kapur, silica dan batubara) dan aman bagi lingkungan dan manusia.

Proses 3R tersebut akan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang masuk dalam kategori Bahan Baku Alternative (Alternative Material – AM) dan Bahan Bakar Alternative (Alternative Fuel – AF). Tentunya proses pengelolaan limbah industri ini, baik limbah B3 maupun limbah non-B3, harus dilakukan secara baik dan benar, dengan teknologi yang tepat guna dan ramah lingkungan, tenaga ahli yang profesional dan perizinan dari KLH (Kementerian Lingkungan Hidup).

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat memusnahkan limbah sisa buangan industri, agar limbah tidak memberikan dampak yang negatif bagi lingkungan, melainkan dapat memberikan dampak positif, yaitu menjadi sumber bahan baku alternative maupun bahan bakar alternative (Alternative Fuel & Material – AFR) yang berguna bagi masyarakat bila dikelola dengan benar dan tepat guna.

(Sutiono Gunadi /11072013).


Print   Email

Related Articles